Semarang,– UIN Walisongo kembali menggelar wisuda Doktor (S3) ke- 41, Magister (S2) ke-66, dan Sarjana (S1) ke-99. Prosesi wisuda sarjana tersebut, menobatkan Muhaimin Thohri sebagai Wisudawan Terbaik Fakultas Syari’ah dan Hukum, pada Sabtu (7/2/26).
Muhammad Muhaimin Thohri merupakan mahasiswa ilmu falak asal Batam yang mampu menyelesaikan perkuliahannya selama 3,5 tahun. Ia menyelesaikan studi perguruan tinggi dengan skripsi yang berjudul “Analisis Konsep Matla’ Dalam Kitab Al Muayyar.
“Tercetus ide skripsi tersebut karena awal ramadhan tahun 2025, hilal hanya terlihat di Aceh jadi itu menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Apakah itu (puasa) hanya berlaku di daerah Aceh saja atau berlaku juga di seluruh wilayah Indonesia,” tutur Thohri.
Matla’ dalam ilmu falak berarti batas geografis keberlakuan rukyatul hilal, yang menentukan apakah penampakan hilal di satu wilayah berlaku untuk wilayah lain. Dengan merujuk dari kitab Al-Ma’ayir Al-Fiqhiyyah Wal-Falakiyah fi I’dadi At-Taqawim Al-Hijriyyah, Thohri mengintegrasikan antara naskah klasik dan astronomi. Thohri hanya membutuhkan waktu satu bulan untuk mampu menyelesaikan skripsi tersebut.
“Untuk skripsi sendiri, alhamdulillah tidak ada halangan karena dosen pembimbingnya memberi kebebasan kepada kami untuk menyelesaikan sendiri dari bab 1 sampai 5 baru setelahnya bimbingan dengan dosbing (dosen pembimbing) langsung,” jelasnya.
Selama menjalani perkuliahan, Thohri sempat mengalami kesulitan dalam belajar dan merasa tertinggal jauh dari teman-temannya yang lain.
“Aku sebelumnya (Madrasah Aliyah) berasal dari jurusan keagamaan tetapi berkuliah di jurusan ilmu falak. Di semester awal aku merasa tertinggal dengan teman-temanku yg lain karena aku tidak tahu sama sekali tentang apa itu falak. Tapi aku tetap berusaha dan meyakinkan diri sehingga diberi kemudahan oleh Allah SWT,” ungkapnya.
Selain berkuliah, organisasi juga menjadi rumah kedua bagi Thohri untuk berproses. Ia aktif di beberapa organisasi seperti CSSMoRA dan JQH El-Fasya. Tidak berhenti disana, semangat belajar yang tinggi membawanya meraih berbagai penghargaan dan piala kejuaraan di tingkat universitas hingga nasional.
“Waktu skripsian sambil lomba juga. Lomba Musyabaqah Syahril Quran (MSQ) sama lomba cerdas cermat islam tingkat nasional,” ucap Thohri.
Semua pengalaman yang telah dicapai, mengantarkannya pada rasa syukur tanpa henti.
“ Di tempat ini, saya belajar sabar dalam memahami ilmu, belajar rendah hati dalam berdiskusi, dan belajar bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Ruang-ruang kelas, lorong fakultas, dan perjumpaan dengan para dosen serta teman-teman telah membentuk cara berpikir dan cara memandang hidup. Fakultas Syari’ah dan Hukum bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi ruang tumbuh yang mengajarkan makna keilmuan, kebersamaan, dan pengabdian. Semua lelah, ragu, dan perjuangan selama kuliah 3 tahun lebih ini, terasa layak untuk saya syukuri,” pungkas Thohri.