FSH Online, Yogyakarta – Forum Kabag Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) PTKIN se-Indonesia mulai memiliki fondasi organisasi. Dalam pertemuan perdana yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, para Kabag FSH dari sejumlah PTKIN membentuk Tim Presidium Pioner sebagai tim awal yang akan mengawal proses pengembangan forum ke depan.
Pembentukan Tim Presidium Pioner menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga hari, Senin-Rabu, 5-7 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan Kabag FSH UIN Walisongo Semarang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UINSI Samarinda, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Salatiga.
Lima nama dipercaya menjadi Presidium Pioner Forum Kabag FSH PTKIN se-Indonesia. Mereka adalah Abdul Hakim, Kabag FSH UIN Walisongo Semarang; Suefrizal, Kabag FSH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Ahmad Rusyadi, Kabag FSH UINSI Samarinda; Heri Sindang, Kabag FSH UIN Sunan Gunung Djati Bandung; serta Edi Kuswanto, Kabag FSH UIN Salatiga.
Pembentukan presidium menjadi langkah awal untuk memastikan forum yang baru lahir memiliki tim penggerak yang dapat mengawal komunikasi, koordinasi dan agenda kelembagaan. Forum ini sebelumnya digagas oleh Kabag FSH UIN Walisongo Semarang, Abdul Hakim, sebagai ruang bersama bagi para pengelola tata usaha FSH PTKIN di tingkat nasional.
Dalam pertemuan tersebut, Abdul Hakim juga dipercaya sebagai Ketua Forum Kabag FSH PTKIN se-Indonesia. Sementara Suefrizal dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal.
Kehadiran Tim Presidium Pioner memiliki arti penting karena forum tidak ingin berhenti pada pertemuan perdana. Presidium diproyeksikan menjadi bagian dari proses awal membangun struktur, merumuskan arah organisasi, memperkuat legal formal, serta menyiapkan agenda forum pada tahap berikutnya.
Sejumlah isu strategis menjadi perhatian forum. Di antaranya penguatan posisi Kabag FSH dalam tata kelola institusi, peningkatan komunikasi antarfakultas, pengembangan sumber daya manusia tenaga kependidikan, hingga membangun komunikasi strategis dengan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Perubahan lingkungan kerja perguruan tinggi juga menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan. Digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah pola kerja administrasi dan pelayanan. Karena itu, forum diharapkan menjadi ruang untuk bertukar pengalaman mengenai bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan tanpa mengesampingkan kualitas SDM dan pelayanan berbasis manusia.
Bagi FSH UIN Walisongo Semarang, terbentuknya Tim Presidium Pioner sekaligus menjadi bagian dari kontribusi fakultas dalam membangun jejaring nasional. Gagasan yang berangkat dari kebutuhan para Kabag FSH tersebut kini mulai berkembang menjadi forum yang memiliki struktur awal dan arah kerja bersama.
Ke depan, Presidium Pioner akan menjadi salah satu elemen penting dalam mengawal keberlanjutan forum. Pertemuan kedua pada 2027 menjadi salah satu agenda yang mulai dipersiapkan, dengan harapan forum dapat menghasilkan program dan rekomendasi yang lebih konkret.
Lebih dari sekadar membentuk organisasi, forum ini membawa gagasan bahwa tenaga kependidikan memiliki posisi strategis dalam memastikan kebijakan akademik dapat diterjemahkan menjadi program dan layanan yang berjalan efektif.
Lima Kabag yang tergabung dalam Presidium Pioner kini menjadi titik awal sebuah jejaring nasional. Dari forum kecil di Yogyakarta, terbuka ruang yang lebih luas untuk membangun komunikasi, berbagi praktik baik, mengembangkan SDM dan bersama-sama mendorong tata kelola FSH PTKIN yang semakin adaptif terhadap perubahan zaman.


