FSH Online, Semarang – Perkembangan kecerdasan buatan mulai membuka cakrawala baru dalam kajian ilmu falak. Teknologi yang selama ini identik dengan dunia digital ternyata menyimpan potensi besar untuk membantu membaca data astronomi, memprediksi visibilitas hilal, hingga memperkuat riset keislaman berbasis data.
Persinggungan antara teknologi mutakhir dan tradisi keilmuan Islam tersebut menjadi bahasan utama dalam Guest Lecture Program Studi S2 Ilmu Falak Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Senin, 31 Agustus 2026.
Mengawali perkuliahan Semester Gasal 2026/2027, forum akademik ini menghadirkan Dr. Mohd Hafiz bin Mohd Saadon dari University of Malaya. Kegiatan diikuti mahasiswa, dosen, peneliti, serta praktisi ilmu falak yang ingin melihat lebih dekat peluang sekaligus tantangan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), machine learning, dan big data dalam pengembangan ilmu falak.
Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., membuka kegiatan secara langsung. Sementara jalannya diskusi dipandu Kaprodi S2 Ilmu Falak, Dr. Ahmad Adib Rofiuddin.
Dalam paparannya, Mohd Hafiz mengajak peserta melihat AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan instrumen baru yang dapat memperkuat kerja ilmiah. Kemampuannya mengolah data dalam jumlah besar, menemukan pola, melakukan klasifikasi, serta menyusun prediksi memungkinkan berbagai persoalan astronomi dianalisis secara lebih cepat dan luas.
Salah satu bidang yang dinilai memiliki prospek besar adalah pengamatan dan prediksi visibilitas hilal.
Data rukyat yang terkumpul dari waktu ke waktu dapat menjadi bahan pembelajaran bagi sistem AI. Data tersebut dapat mencakup koordinat pengamatan, elongasi, elevasi, azimut, kelembapan, tutupan awan, hingga karakter atmosfer. Dari himpunan data itu, sistem dapat mempelajari pola dan menghasilkan probabilitas keterlihatan hilal pada kondisi tertentu.
Namun, kecanggihan teknologi tetap memiliki batas.
Mohd Hafiz menekankan bahwa prediksi berbasis AI tidak identik dengan kepastian hasil perhitungan hisab. AI bekerja dengan membaca pola dan menghasilkan probabilitas berdasarkan data yang tersedia. Karena itu, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen pendukung keilmuan, bukan pengganti otoritas manusia.
Dalam persoalan yang bersentuhan dengan ketentuan syariah, interpretasi ilmiah dan pengambilan keputusan tetap membutuhkan peran sarjana, ahli falak, dan ulama.
Perspektif tersebut menjadi penting di tengah kecenderungan penggunaan AI secara masif dalam berbagai bidang. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan manusia, tetapi keputusan ilmiah dan keagamaan tetap memerlukan metodologi, pertanggungjawaban akademik, serta kebijaksanaan manusia.
Indonesia Menyimpan “Tambang Data” Ilmu Falak
Dalam forum tersebut, Indonesia juga dipandang memiliki modal strategis untuk menjadi salah satu pusat pengembangan big data ilmu falak.
Bentang geografis Indonesia yang sangat luas menghadirkan karakter atmosfer dan kondisi pengamatan yang beragam. Setiap lokasi berpotensi menghasilkan data astronomi yang berbeda. Apabila dihimpun secara sistematis, data dari berbagai wilayah dapat menjadi kekayaan ilmiah untuk membangun model AI yang lebih sesuai dengan karakteristik Indonesia.
Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat penelitian mengenai hilal, waktu salat, maupun berbagai persoalan astronomi Islam lainnya.
Pada titik ini, pengembangan ilmu falak tidak lagi hanya bertumpu pada kemampuan melakukan perhitungan dan observasi. Masa depan disiplin ini juga membutuhkan penguasaan data, komputasi, dan teknologi digital.
AI bahkan membuka peluang yang lebih luas bagi studi Islam. Digitalisasi kitab klasik, kitab kuning, manuskrip, serta literatur berbahasa Arab memungkinkan teknologi membantu peneliti menelusuri tema, mengenali pola teks, melakukan pemetaan literatur, hingga membantu proses penerjemahan.
Meski demikian, teknologi tidak dapat menggantikan tradisi keilmuan yang dibangun melalui guru, ulama, dan proses pembacaan teks secara mendalam.
Mohd Hafiz juga mengingatkan pentingnya etika, transparansi data, dan kewaspadaan terhadap bias algoritma. Model AI sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan untuk melatihnya. Sistem yang dibangun berdasarkan karakteristik suatu wilayah belum tentu menghasilkan tingkat akurasi yang sama ketika diterapkan di wilayah lain.
Karena itu, penggunaan AI dalam ilmu falak membutuhkan kolaborasi antara teknologi dan otoritas keilmuan: data yang berkualitas, observasi yang kuat, komputasi yang tepat, serta verifikasi oleh manusia yang memiliki kompetensi.
Guest Lecture ini sekaligus memperlihatkan bagaimana UIN Walisongo terus membuka ruang dialog antara khazanah keilmuan Islam dan perkembangan teknologi global. Melalui S2 Ilmu Falak, tradisi keilmuan falak tidak hanya dipertahankan, tetapi didorong untuk berkembang melalui riset, inovasi, dan jejaring akademik internasional.
Pertemuan akademik bersama University of Malaya tersebut membawa satu pesan penting: masa depan ilmu falak bukan tentang memilih antara tradisi atau teknologi.
Masa depan ilmu falak justru terletak pada kemampuan mempertemukan keduanya.
AI tidak datang untuk menggantikan ahli falak, sarjana, ataupun ulama. Teknologi hadir sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia membaca data dan menemukan pengetahuan baru. Sementara manusia tetap memegang peran utama dalam memberikan makna, melakukan verifikasi, dan memastikan ilmu berkembang untuk kemaslahatan umat.


