{"id":21811,"date":"2026-10-22T08:46:12","date_gmt":"2026-10-22T01:46:12","guid":{"rendered":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=21811"},"modified":"2026-10-22T09:43:57","modified_gmt":"2026-10-22T02:43:57","slug":"santri-dulu-kini-dan-esok-menjaga-tradisi-menjemput-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=21811","title":{"rendered":"Santri, Dulu, Kini, dan Esok: Menjaga Tradisi, Menjemput Masa Depan"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Drs. Abdul Hakim, M.Ag.<\/p>\n<p>Kabag. Umum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang; Ketua Forum Kabag. FSH PTKIN Se-Indonesia<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober 2026 menjadi momentum untuk membaca kembali perjalanan santri dalam lintasan sejarah, dinamika masa kini, dan tantangan masa depan. Santri bukan sekadar identitas seseorang yang pernah belajar di pesantren. Ia merupakan representasi tradisi keilmuan, keteguhan spiritual, kearifan lokal, dan pengabdian sosial yang terus tumbuh bersama perjalanan bangsa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Membicarakan santri berarti membicarakan tiga waktu sekaligus: dulu sebagai akar sejarah, kini sebagai ruang perjuangan, dan esok sebagai medan pengabdian.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dulu: Santri dan Jejak Sejarah<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Santri adalah entitas yang menyejarah. Sarung, kitab kuning, pesantren, dan sosok kiai bukan sekadar simbol budaya, melainkan bagian dari ekosistem pendidikan yang mentransmisikan ilmu, akhlak, dan kearifan. Di pesantren, pengetahuan tidak berhenti pada hafalan dan penguasaan teks. Ilmu ditanamkan melalui keteladanan, adab, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap guru dan mata rantai keilmuan atau sanad.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tradisi ini membentuk karakter santri yang tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan batin. Santri belajar bahwa ilmu memiliki tanggung jawab moral: semakin tinggi pengetahuan seseorang, semestinya semakin besar pula manfaat yang diberikan kepada sesama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam kajian antropologi, Clifford Geertz melalui The Religion of Java menguraikan kategorisasi sosial masyarakat Jawa, termasuk istilah santri, abangan, dan priyayi. Karya tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam memahami keragaman corak keberagamaan dan kehidupan sosial masyarakat Jawa. Meski kategorisasi itu tidak dapat mewakili seluruh kompleksitas masyarakat Indonesia, ia menunjukkan bahwa santri telah lama menjadi bagian penting dalam pembacaan sejarah sosial dan kebudayaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kini: Menjaga Marwah, Membuka Diri<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hari ini, santri menghadapi lanskap yang jauh berbeda. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan sosial, dan keterbukaan informasi telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Ilmu dapat dipelajari melampaui batas ruang dan waktu. Sumber belajar terbuka luas, tetapi informasi yang benar bercampur dengan kabar palsu, pemahaman dangkal, dan pandangan yang menyesatkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam situasi demikian, santri tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi. Santri harus mampu berdialog dengan perubahan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat. Namun, keterbukaan tidak berarti kehilangan pijakan. Kemajuan harus berjalan seiring dengan penjagaan marwah pesantren, keluhuran akhlak, dan kedalaman spiritual.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Prinsip al-muhafazhah &#8216;ala al-qadim ash-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah\u2014memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik\u2014menjadi pedoman yang relevan. Tradisi bukan alasan untuk menolak pembaruan, sementara modernitas bukan pembenaran untuk meninggalkan nilai. Santri dituntut mampu memilah, menguji, dan mengintegrasikan keduanya secara bijaksana.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Esok: Menjadi Matahari bagi Kehidupan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Masa depan membutuhkan santri yang kehadirannya menerangi, bukan sekadar terlihat. Sebagai refleksi kreatif, kata \u201cSuntri\u201d dapat dibaca sebagai perpaduan sun (matahari) dan tri (tiga). Ini bukan asal-usul kata santri, melainkan cara sederhana untuk merumuskan tiga orientasi pengabdian santri masa depan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pertama, memberi manfaat bagi sanad dan tradisi keilmuan. Santri harus menjaga kesinambungan ilmu, menghormati guru, memperkuat budaya membaca, sekaligus berani mengembangkan pemikiran yang relevan dengan kebutuhan zaman.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kedua, mengangkat harkat dan martabat manusia. Ilmu agama dan pengetahuan umum harus bertemu dalam kerja nyata: memperjuangkan keadilan, membangun kepedulian sosial, memperluas akses pendidikan, dan membela kelompok yang rentan. Santri yang berilmu semestinya menghadirkan solusi, bukan memperlebar perbedaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ketiga, menapaki jalan menuju rida Tuhan. Kecerdasan, jabatan, dan keberhasilan tidak boleh menjauhkan manusia dari kerendahan hati. Seluruh aktivitas keilmuan dan pengabdian harus berakar pada niat yang baik serta diwujudkan melalui perilaku yang jujur dan bertanggung jawab.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pada saat yang sama, santri perlu menghindari tiga jebakan: godaan internal yang melemahkan semangat belajar, kesombongan dan kerakusan yang merusak integritas, serta kamuflase kenikmatan dunia yang membuat manusia kehilangan orientasi hidup. Ketiganya dapat mengubah ilmu menjadi alat mencari pengakuan, kekuasaan, atau keuntungan pribadi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Akhirnya, perjuangan santri dapat diukur melalui tiga cita-cita: memenuhi harapan orang tua dan guru, mewujudkan ketenteraman sosial, serta membangun kehidupan yang memadukan ilmu dan ibadah. Inilah masa depan yang tidak cukup dibangun dengan kecakapan, tetapi juga memerlukan karakter.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>HSN 2026 semestinya tidak berhenti pada seremoni, pakaian khas, atau kemeriahan peringatan. Ia harus menjadi ajakan untuk memastikan bahwa tradisi pesantren tetap hidup, santri mampu menjawab tantangan zaman, dan ilmunya benar-benar dirasakan masyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Santri dulu meletakkan fondasi, santri kini menghadapi perubahan, dan santri esok memikul tanggung jawab peradaban. Tantangannya bukan memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan mempertemukan keduanya demi kemaslahatan. Sebab, santri sejati bukan hanya mereka yang pernah belajar di pesantren, melainkan mereka yang terus belajar, menjaga akhlak, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Drs. Abdul Hakim, M.Ag. Kabag. Umum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang; Ketua Forum Kabag. FSH PTKIN Se-Indonesia &nbsp; Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober 2026 menjadi momentum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":21812,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[27,4],"tags":[],"class_list":["post-21811","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kunjungan","category-kolom-dosen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21811"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21811\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21820,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21811\/revisions\/21820"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/21812"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}