{"id":21701,"date":"2026-09-28T14:55:22","date_gmt":"2026-09-28T07:55:22","guid":{"rendered":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=21701"},"modified":"2026-09-28T14:55:22","modified_gmt":"2026-09-28T07:55:22","slug":"bukan-takut-pada-ai-tapi-takut-kehilangan-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=21701","title":{"rendered":"Bukan Takut pada AI, Tapi Takut Kehilangan Karakter"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Drs. Abdul Hakim, M.Ag.<\/p>\n<p>Kabag. TU Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Belakangan ini ada satu hal yang semakin sering dibicarakan di ruang kerja: Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini datang dengan kemampuan yang luar biasa. Ia bisa membantu menulis, mengolah data, merangkum dokumen, mencari informasi, membuat desain, bahkan membantu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Di lingkungan perguruan tinggi, perubahan itu juga mulai terasa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pekerjaan administrasi yang dahulu dilakukan secara manual perlahan beralih ke sistem digital. Data semakin mudah diolah. Informasi semakin cepat diperoleh. Berbagai aplikasi membantu pekerjaan menjadi lebih praktis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sebagai orang yang sehari-hari berhadapan dengan administrasi, pelayanan dan dinamika kerja di lingkungan fakultas, saya melihat perkembangan ini bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI bukan musuh.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Justru yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana manusia tetap memiliki nilai ketika teknologi semakin pintar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karena itu, saya lebih khawatir bukan pada AI yang semakin cerdas, tetapi pada manusia yang perlahan kehilangan karakter.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Teknologi boleh berubah, manusia jangan kehilangan tanggung jawab<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI dapat membantu membuat sebuah dokumen. Tetapi siapa yang memastikan isinya benar?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI dapat mengolah data. Tetapi siapa yang memastikan data itu digunakan dengan tepat?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI dapat memberikan jawaban. Tetapi siapa yang memastikan jawaban tersebut sesuai dengan keadaan?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Di sinilah manusia tetap memiliki peran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tanggung jawab tidak dapat begitu saja diserahkan kepada teknologi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam pekerjaan administrasi, misalnya, ketelitian tetap diperlukan. Sebuah kesalahan kecil dalam data bisa berdampak panjang. Sebuah informasi yang tidak diverifikasi bisa menimbulkan persoalan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Maka, semakin canggih teknologi yang kita gunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap manusia yang teliti, bertanggung jawab dan memiliki integritas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kreatif ketika cara lama tidak lagi cukup<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Perubahan teknologi juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu nyaman dengan kebiasaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Apa yang dahulu dianggap efektif belum tentu masih efektif sekarang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Di lingkungan fakultas, persoalan datang silih berganti. Ada kebutuhan mahasiswa, kepentingan dosen, pelayanan administrasi, agenda pimpinan, pengelolaan data, hingga berbagai pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Semua membutuhkan cara berpikir yang adaptif.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Di sinilah kreativitas menjadi penting.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kreatif tidak selalu berarti menghasilkan sesuatu yang besar. Kadang kreativitas hanya berupa keberanian mencari cara yang lebih sederhana untuk menyelesaikan pekerjaan yang rumit.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagaimana pelayanan bisa lebih cepat?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagaimana informasi bisa lebih mudah diterima?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagaimana pekerjaan yang berulang dapat disederhanakan?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membantu pekerjaan tanpa mengurangi kualitas pelayanan?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu justru dapat melahirkan perubahan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jangan hanya bekerja, tetapi berani berinovasi<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kreativitas akan berhenti menjadi gagasan jika tidak diwujudkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karena itu, SDM juga harus memiliki keberanian berinovasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Inovasi tidak harus selalu berupa aplikasi baru atau teknologi yang mahal. Memperbaiki alur pelayanan, merapikan sistem arsip, membangun komunikasi yang lebih efektif, atau menemukan cara baru untuk memberikan informasi kepada mahasiswa juga merupakan bentuk inovasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Yang terpenting adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jangan sampai kita berkata, \u201cDari dulu juga begini.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kalimat tersebut mungkin sederhana, tetapi jika terlalu sering digunakan, ia bisa menjadi penghalang perubahan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dunia bergerak. Teknologi bergerak. Kebutuhan masyarakat bergerak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Maka cara kerja kita pun harus mau bergerak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tetap friendly<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ada satu hal yang menurut saya tidak boleh hilang meskipun pekerjaan semakin digital: keramahan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Perguruan tinggi bukan hanya tempat mengelola dokumen dan data. Di dalamnya ada manusia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ada mahasiswa yang datang membawa pertanyaan. Ada dosen yang membutuhkan pelayanan administrasi. Ada rekan kerja yang menghadapi persoalan. Ada masyarakat yang membutuhkan informasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mereka bukan sekadar nomor antrean atau data dalam sistem.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mereka adalah manusia yang perlu dihargai.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan bersama kemampuan berkomunikasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Cepat dalam bekerja, tetapi tetap santun.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Profesional, tetapi tidak kaku.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tegas, tetapi tetap menghargai.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurut saya, inilah makna friendly dalam dunia kerja: membuat orang lain merasa dilayani dan dihargai.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jangan sampai teknologi membuat kita berjalan sendiri<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI memungkinkan banyak pekerjaan dilakukan secara individual. Seseorang bisa mengolah data, membuat tulisan, membuat presentasi, bahkan menyelesaikan berbagai pekerjaan hanya dengan bantuan perangkat digital.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tetapi organisasi tidak dibangun oleh satu orang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Fakultas juga tidak akan berjalan hanya karena satu orang bekerja dengan baik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ada pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa dan berbagai unsur lain yang saling membutuhkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karena itu, kemampuan bekerja sama justru semakin penting.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jangan sampai teknologi membuat kita merasa tidak membutuhkan orang lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kita boleh memiliki kemampuan masing-masing. Tetapi kemampuan itu akan jauh lebih berarti ketika digunakan untuk kepentingan bersama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Budaya kerja perlu bergerak dari \u201cini pekerjaan saya\u201d menjadi \u201cini tanggung jawab kita\u201d.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dari \u201csaya bisa\u201d menjadi \u201cmari kita kerjakan bersama\u201d.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sebab tidak semua persoalan membutuhkan orang paling pintar. Banyak persoalan justru membutuhkan orang-orang yang mau duduk bersama dan mencari jalan keluar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI boleh pintar, manusia harus berkarakter<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pada akhirnya, perkembangan AI seharusnya tidak membuat kita sibuk bertanya apakah manusia akan kalah dari mesin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pertanyaan yang lebih penting adalah: manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan di tengah kemajuan teknologi?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kita membutuhkan manusia yang kreatif untuk melihat peluang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kita membutuhkan manusia yang inovatif untuk menghadapi perubahan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kita membutuhkan manusia yang friendly untuk menjaga kualitas hubungan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan kita membutuhkan manusia yang tidak individualistis untuk membangun kekuatan bersama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI mungkin dapat membantu kita bekerja lebih cepat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tetapi karakter membuat kita tahu untuk apa pekerjaan itu dilakukan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI dapat membantu menghasilkan informasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tetapi integritas menentukan bagaimana informasi itu digunakan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI dapat membantu membuat keputusan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tetapi kebijaksanaan tetap membutuhkan manusia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karena itu, saya tidak terlalu khawatir ketika AI semakin pintar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Yang perlu kita khawatirkan adalah jika manusia menjadi semakin malas berpikir, enggan belajar, tidak peduli pada orang lain, dan kehilangan rasa tanggung jawab.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Teknologi akan terus berkembang. Tidak ada yang bisa menghentikannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tugas kita bukan melawan perubahan, melainkan mempersiapkan manusia agar mampu menghadapinya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>AI boleh semakin pintar. Kita juga harus semakin berkualitas. Tetapi jangan lupa: di tengah dunia yang semakin digital, karakter manusia justru menjadi semakin mahal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Drs. Abdul Hakim, M.Ag. Kabag. TU Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang. &nbsp; Belakangan ini ada satu hal yang semakin sering dibicarakan di ruang kerja: Artificial Intelligence (AI). [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":21702,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[88,27,601],"tags":[],"class_list":["post-21701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akademik","category-kunjungan","category-kabar-fsh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21701"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21703,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21701\/revisions\/21703"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/21702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}