{"id":21330,"date":"2026-09-09T15:16:21","date_gmt":"2026-09-09T08:16:21","guid":{"rendered":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=21330"},"modified":"2026-09-09T15:16:21","modified_gmt":"2026-09-09T08:16:21","slug":"rektor-uin-walisongo-tekankan-halal-sebagai-etika-global-dalam-pembukaan-icoshel-2nd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=21330","title":{"rendered":"Rektor UIN Walisongo Tekankan Halal sebagai Etika Global dalam Pembukaan ICOSHEL 2nd"},"content":{"rendered":"<p><strong>FSH Online, Semarang<\/strong> \u2013 Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. secara resmi membuka 2nd International Conference on Sharia Economic Law (ICOSHEL 2nd) yang digelar pada 8\u201310 September 2026 di Hotel Pandanaran, Semarang.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-21323\" src=\"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_142725_Gallery-1-1024x769.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"769\" srcset=\"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_142725_Gallery-1-1024x769.jpg 1024w, https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_142725_Gallery-1-300x225.jpg 300w, https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_142725_Gallery-1-768x576.jpg 768w, https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_142725_Gallery-1.jpg 1439w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>Konferensi internasional ini mengusung tema \u201cSharia Economic Law, Global Halal Industry, and Environmental Sustainability: Toward Substantive Compliance for a Green Economy.\u201d Tema tersebut menempatkan isu halal tidak hanya dalam kerangka hukum dan sertifikasi, tetapi juga dalam hubungan yang lebih luas dengan etika ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan tanggung jawab sosial.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam sambutannya, Prof. Musahadi menekankan bahwa halal merupakan salah satu prinsip penting dalam kehidupan umat Islam yang memiliki dimensi luas. Halal tidak cukup dipahami sebagai status hukum sebuah produk, tetapi juga harus menjadi bagian dari cara manusia membangun sistem ekonomi yang baik, aman, berkeadilan, dan memberikan kemaslahatan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurutnya, konsep halal memiliki hubungan erat dengan nilai tayyib, yakni sesuatu yang baik, sehat, layak, dan memberi manfaat. Karena itu, industri halal masa depan tidak cukup hanya memastikan sebuah produk memenuhi persyaratan formal, tetapi juga perlu memastikan proses produksinya bertanggung jawab terhadap manusia, lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cHalal bukan sekadar label atau tanda pada sebuah produk. Halal harus menjadi bagian dari etika kehidupan dan etika ekonomi. Ketika kita berbicara halal, kita juga berbicara tentang kebaikan, keamanan, tanggung jawab, dan kemaslahatan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Prof. Musahadi menilai perkembangan industri halal global membuka peluang besar bagi dunia akademik. Perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menjadi pengguna konsep halal, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu, riset, regulasi, dan inovasi yang mampu menjawab persoalan ekonomi kontemporer.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam konteks ekonomi modern, tantangan halal semakin kompleks. Produk tidak lagi bergerak dalam satu wilayah, tetapi melewati rantai pasok global. Bahan baku dapat berasal dari satu negara, diproses di negara lain, kemudian dipasarkan di berbagai belahan dunia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kondisi tersebut membuat isu halal harus dibaca secara lebih luas, mencakup ketertelusuran bahan, proses produksi, logistik, keamanan pangan, perlindungan konsumen, hingga dampaknya terhadap lingkungan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Di sinilah, menurut Rektor, pendekatan substantive compliance menjadi penting.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kepatuhan terhadap syariah tidak boleh berhenti pada pemenuhan aspek administratif atau legal-formal. Kepatuhan harus diwujudkan dalam nilai dan dampak nyata dari aktivitas ekonomi. Sebuah produk tidak hanya perlu halal secara prosedural, tetapi juga perlu memberi manfaat, tidak menimbulkan kerusakan, dan tidak merugikan masyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Prof. Musahadi juga menyoroti relevansi nilai-nilai Islam dengan agenda green economy. Dalam pandangannya, ajaran Islam memberikan perhatian besar terhadap keseimbangan, tanggung jawab manusia terhadap alam, serta larangan melakukan kerusakan di muka bumi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karena itu, pertumbuhan industri halal semestinya berjalan seiring dengan kesadaran ekologis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cEkonomi yang tumbuh tetapi merusak lingkungan pada akhirnya akan melahirkan persoalan baru. Prinsip syariah harus mampu menghadirkan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, kesejahteraan manusia, dan keberlanjutan alam,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-21324\" src=\"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_144049_Gallery-1024x712.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"712\" srcset=\"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_144049_Gallery-1024x712.jpg 1024w, https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_144049_Gallery-300x209.jpg 300w, https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_144049_Gallery-768x534.jpg 768w, https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_144049_Gallery.jpg 1332w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p>ICOSHEL 2nd menghadirkan sejumlah pembicara lintas disiplin dan negara, yakni Khalid Dadda dari Miftah Al-Khair Association, Morocco; Assoc. Prof. Dr. Hj. Betania Kartika Muflih, B.A., M.A. dari International Institute for Halal Research and Training (INHART); serta Dr. drh. Agung Suganda, M.Si., Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Diskusi dimoderatori Dr. Firqah Annajiyah Mansyuroh, M.H., dosen Program Studi Hukum Ekonomi Syariah UIN Antasari Banjarmasin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam pembukaan konferensi, Dekan FSH UIN Walisongo Dr. H. Tolkah, M.A. dan Ketua POSDHESI Dr. H. Abdul Mujib, M.Ag. turut memberikan sambutan di hadapan para Dekan Fakultas Syariah dan Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagi UIN Walisongo, penyelenggaraan ICOSHEL 2nd bukan sekadar forum akademik tahunan. Konferensi ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan khazanah hukum Islam dengan persoalan global yang terus berkembang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>FSH UIN Walisongo melalui forum tersebut mendorong agar kajian Hukum Ekonomi Syariah semakin terbuka terhadap isu industri halal, keberlanjutan, teknologi, perdagangan global, dan perlindungan konsumen.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pada akhir sesi pembukaan, penghargaan dan cinderamata diserahkan kepada para pembicara oleh Rektor UIN Walisongo, Dekan FSH, dan Ketua POSDHESI.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Melalui sambutannya, Prof. Musahadi membawa pesan penting bahwa keutamaan halal tidak hanya terletak pada status hukumnya, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan kebaikan dalam kehidupan nyata.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam konteks global, halal dapat menjadi bahasa etik yang mempertemukan agama, ekonomi, kesehatan, keadilan, dan keberlanjutan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karena itu, masa depan industri halal tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak produk tersertifikasi, tetapi juga oleh seberapa jauh prinsip halal mampu membentuk sistem ekonomi yang aman, adil, bertanggung jawab, dan ramah terhadap bumi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>FSH Online, Semarang \u2013 Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. secara resmi membuka 2nd International Conference on Sharia Economic Law (ICOSHEL 2nd) yang digelar pada 8\u201310 September [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":21328,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14,88],"tags":[],"class_list":["post-21330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-agenda-kegiatan","category-akademik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=21330"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21330\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21331,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/21330\/revisions\/21331"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/21328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=21330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=21330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=21330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}