{"id":1812,"date":"2013-07-15T15:20:00","date_gmt":"2013-07-15T15:20:00","guid":{"rendered":"http:\/\/fsei.walisongo.ac.id\/?p=9"},"modified":"2013-07-15T15:20:00","modified_gmt":"2013-07-15T15:20:00","slug":"ramadhan-bulan-refleksi-untuk-mencapai-kebahagiaan-sejati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=1812","title":{"rendered":"Ramadhan, Bulan Refleksi untuk Mencapai Kebahagiaan Sejati"},"content":{"rendered":"<div class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"><a style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\" href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/--VhhnKTteC8\/UeOwqgOddPI\/AAAAAAAAA5c\/UFkR44N-xl8\/s1600\/foto0001_jvlastnews_thumb_jvlastnews_thumb.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" alt=\"\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/--VhhnKTteC8\/UeOwqgOddPI\/AAAAAAAAA5c\/UFkR44N-xl8\/s320\/foto0001_jvlastnews_thumb_jvlastnews_thumb.jpg\" width=\"240\" height=\"320\" border=\"0\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span><em>(<\/em><em>Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI<\/em><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><em><span>Pengasuh Pesantren Mahasiswa Daarun Najaah Semarang)<\/span><\/em><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Ada sebuah sabda yang menarik dari nabi Isa as, yang diriwayatkan <em>Ali bin Musa al-Ridla<\/em> (salah seorang Imam Kaum Syiah)<em>; \u201cSungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan perkenan Allah. Juga aku sembuhkan orang buta dan orang yang berpenyakit lepra dengan perkenan Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan perkenan Allah; kemudian aku obati orang dungu, namun aku tidak mampu menyembuhkannya\u201d.<\/em><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Pada suatu hari\u00a0 beliau pun ditanya : \u201cWahai ruh Allah, siapakah orang dungu itu? Beliau menjawab: yaitu orang yang kagum pada pendapatnya sendiri, yang memandang semua keunggulannya ada padanya dan tidak melihat cacat ada padanya ; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya\u201d.\u00a0 \u00a0Nabi Isa as. menyebut orang dungu itu sebagai \u201cal-ahmaq\u201d. Kedunguan yang bukan sembarang kedunguan, tetapi kedunguan kuadrat atau jahil murakkab (kebodohan berlipat).<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Imam Ghazali berkata, ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang tidak tahu\u00a0 dan tahu bahwa ia tidak tahu ( <em>man la yadri wa yadri annahu la yadri <\/em>). Inilah orang bodoh yang sederhana. Orang seperti ini mudah disembuhkan, terutama lewat pendidikan. Kedua, orang yang tahu, tetapi ia tidak tahu bahwa ia tahu\u00a0 (<em>man yadri wa la yadri annahu yadri<\/em>). Orang seperti ini laiknya orang yang tertidur. Dia harus dibangunkan dari tidurnya supaya sadar akan kemampuannya sehingga dapat memberi manfaat kepada dirinya dan pada orang lain.<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Ketiga, adalah orang yang tahu dan ia tahu bahwa ia tahu (<em>man yadri wa yadri annahu yadri<\/em>). Inilah golongan orang-orang arif (<em>al-hukama<\/em>). Mereka inilah orang yang perlu diikuti ajaran maupun cara hidupnya dan menjadi teladan umat manusia. Sementara yang keempat, adalah orang yang tidak tahu dan tidah tahu bahwa ia tidak tahu (<em>man la yadri wa la yadri annahu la yadri).<\/em> Inilah golongan yang benar-benar orang-orang dungu.<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Menurut nabi Isa as tersebut di atas, seseorang sulit disembuhkan kebodohannya selama ia belum menyadari ketidaktahuannya. Orang ini menderita jahil yang disebut dengan <em>jahil murakkab<\/em>. Pangkal kebodohannya adalah ketidaktahuan pada dirinya sendiri, ditambah dengan sifat ujub yakni sifat merasa dirinya selalu benar, tidak pernah salah. Kebodohan semacam ini bukanlah cirri orang yang beriman, karena orang yang beriman adalah orang yang selalu berusaha untuk\u00a0 menyingkap tabir ketidaktahuan dirinya. Karena iman yang benar menghasilkan sikap tahu diri yang benar. Dan tahu diri adalah pangkal kearifan.<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Oleh karena itu, untuk menyongsong bulan Ramadhan tahun ini, kita tekankan pengenalan diri kita dengan cara muhasabah \u2013 dengan cara intropeksi, yakni seperti yang dikatakan dalam ungkapan\u00a0\u00a0 sufi :<em> \u201cman \u2018arafa nafsahu faqad \u2018arafa rabbahu<\/em>\u201d (siapa mengenal dirinya sendiri maka ia mengenal Tuhannya). Nabi Muhammad saw sendiri juga pernah bersabda: <em>\u201cMan shoma Ramadhana imanan wahtisaban\u00a0 ghufira lahu ma taqaddama min danbihi<\/em>\u201d (barang siapa menjalankan puasa penuh dengan keimanan dan melaksanakan perhitungan diri \u2013 melaksanakan muhasabah, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu).<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span><em>Ihtisaban<\/em> \u2013 perhitungan terhadap diri sendiri adalah hal yang sangat dianjurkan dalam ibadah puasa. Inilah momentum yang sangat baik bagi kita untuk intropeksi terhadap hidup kita selama ini. Terhadap apa saja yang sudah kita lakukan, terhadap apa saja yang belum kita lakukan, kesalahan-kesalahan apa yang telah kita perbuat, sehingga intropeksi\u00a0 ini juga menyangkut pertaubatan atas kesalahan atau dosa-dosa yang sudah kita perbuat. Sehingga<em> ihtisaban <\/em>\u2013 perhitungan diri memang tidak lepas dari pertaubatan.<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Manusia melakukan dosa karena ia tidak tahan untuk menderita sementara. Padahal ada kebahagiaan besar di kemudian hari jika ia sanggup menunda kepuasan sementara. Dosa memang menjadi bagian kehidupan manusia karena manusia memang lemah, seperti dikatakan hikmah dalam bahasa latin, <em>Erare Humanum est<\/em> (manusia adalah pembuat kesalahan). Karena itu definisi dosa adalah sesuatu yang dalam jangka pendek membawa kesenangan, tetapi dalam jangka panjang membawa kesengsaraan. Dosa disebut juga munkar yang artinya sesuatu yang diingkari atau ditolak oleh hati nurani. Kita tahu hati nurani adalah locus kesadaran manusia, kesuciannya, fitrahnya. Karena itu ia disimbolkan dengan cahaya. Hati yang bersih menjadi sumber cahaya kehidupan kita yang membawa kebaikan dan kebenaran. Namun karena kelemahan manusia itu, manusia dapat terjatuh kedalam kegelapan \u2013 <em>dulmani<\/em> \u2013 dosa. Di sini hati nurani melakukan<em> vis-\u00e0-vis <\/em>dengan hati yang gelap. Hati nurani menjadi sumber kebajikan manusia, sedangkan hati yang gelap menjadi sumber dosa. Nabi Muhammad saw bersabda : <em>\u201cKebajikan adalah budi pekerti luhur, dan dosa adalah sesuatu yang terbetik dalam dadamu dan kamu tidak suka orang lain mengetahuinya\u201d.<\/em><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Oleh karena itu, jika tahu diri adalah pangkal kearifan, ini berarti dari waktu ke waktu manusia memang selalu memerlukan penyucian dirinya, menyucikan hatinya, supaya hati itu menjadi nurani \u2013 bersifat cahaya kembali. Di saat bulan Ramadhan inilah di samping bertujuan mencapai ketakwaan, puasa Ramadhan juga dapat mempertajam kepekaan hati nurani yang mengajak ke kebenaran dan kebaikan.<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Marilah kita benar-benar melakukan penghitungan diri \u2013 melakukan ihtisaban, sehingga kita dapat mendapatkan rahmah \u2013 maghfirah dan berkah yang ada dalam bulan Ramadhan tahun ini. Sehingga ritualitas kita selama bulan Ramadhan ini tidak hanya sekedar\u00a0 \u201cpemeranan\u201d dalam sebuah permainan teater\u00a0 \u2013 yang sudah tidak memainkan peran baik ketika tidak manggung lagi. Namun nilai-nilai hasil penghitungan diri <em>\u2013 ihtisaban<\/em> &#8211; selama Ramadhan ini dapat mencambuk untuk berbuat lebih baik, lebih bermanfaat kepada yang lain, sehingga jauh dari perilaku zalim baik pada diri sendiri, baik pada sesama, maupun dhalim pada lingkungan social kita.<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"font-family: inherit; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: small;\"><span>Dengan demikian kiranya\u00a0 <em>hasanah fiddunya\u00a0 wal akhirah <\/em>akan mudah diraih, yang mana dalam konteks kenegaraan konsep <em>baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur<\/em> akan mudah tergapai. Mari kita songsong bulan Ramadhan 1434 H tahun ini dengan muhasabah. Selamat menyambut bulan Ramadhan 1434 H.<\/span><\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag (Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI Pengasuh Pesantren Mahasiswa Daarun Najaah Semarang) Ada sebuah sabda yang menarik dari nabi Isa as, yang diriwayatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":241,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[71],"class_list":["post-1812","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-dosen","tag-ramadhan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1812","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1812"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1812\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1812"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1812"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1812"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}