{"id":1809,"date":"2013-02-07T14:02:00","date_gmt":"2013-02-07T07:02:00","guid":{"rendered":"http:\/\/fsei.walisongo.ac.id\/?p=34"},"modified":"2013-02-07T14:02:00","modified_gmt":"2013-02-07T07:02:00","slug":"workshop-kajian-keislaman-lpm-justisia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=1809","title":{"rendered":"Workshop kajian keislaman LPM Justisia"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\">(Kampus, Syari&#8217;ahwalisongo.co.id) &#8211; &#8220;Aktifis lembaga penerbitan adalah  mahasiswa yang harus tetap menjaga idealisme. Dari itu workhsop kajian  keislaman seperti ini sangat penting dan dibutuhkan oleh para sktifis  LPM Justisia untuk mempunyai sensitifitas terhadap isu-isu kajian  keislaman,&#8221; jelas Tedi Kholiludin dalam kesempatan acara workshop kajian  keislaman LPM Justisia Fakultas Syari&#8217;ah IAIN Walisongo Semarang,  Kamis, (7\/2).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Aktifis lembaga penerbitan saat ini dituntut untuk  lebih peka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial  keagamaan. Karena itu dituntut untuk lebih bisa memahami bagaimana  problemnya dimasyarakat. Selain itu sebagai aktifis lembaga penerbitan  juga dibutuhkan orang yang yang mempunyai sens terhadap isu-isu damai  atau feace jurnalism.<br \/>&#8220;Dalam situasi seperti ini maka aktifis  lembaga penerbitan harus punya sens terhadap jurnalisme damai. Artinya  lebih peka terhadap isu-isu damai atau feace jurnalism,&#8221; Tambah Tedi.   <\/p>\n<p>Dalam  sesi selanjutnya, Iman Fadhilah selaku narasumber yang kedua memaparkan  betapa pentingnya mendalami kajian keislaman secara konfrehensif.  Karena seringkali terjadi salah pemahaman terhadap nash (ayat) yang  mengakibatkan fatal jika diterapkan dalam kehidupan. Salah paham itu  bisa diakibatkan oleh dangkalnya pengetahuan dan bisa juga terpengaruh  oleh politik keagamaan. <br \/>Mengkaji Islam sebagai aktifis lembaga  penerbitan dan juga sekaligus mahasiswa Fakultas Syari&#8217;ah harus sangan  konfrehensif dalam mengkaji sebuah nash. Baik itu dari sisi sejarahnya,  garamatikal nash itu sendiri dan juga dari sisi konsep pewahyuanya.  Untuk dapat memahami maksud dari suatu nash atau teks tidak bisa hanya  dipahami dari satu sisi saja. <\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dalam memahami suatu teks agama tidak  bisa kita memahaminya dari satu sisi saja. Tapi harus sangat  konfrehensif. Baik itu dari sisi kajian sejarahnya, secara gramatikal  bahasanya, dan juga konsep pewahyuanya itu sendiri. Karena jika kita  hanya memahami suatu teks dari satu sisi saja akan berakibat fatal,&#8221;  papar Iman Fadhilah. Hal demikian kerap kali terjadi di masyarakat.  Termasuk ketika ada yang memahami bahwa daging anjing itu halal. Ini  salah satu contoh pemahaman keagamaan yang tidak konfrehensif. &#8220;Hanya  membaca al-Qur&#8217;an tanpa dimaknai sisi-sisi ilmu al-Qur&#8217;an lainya.  Seperti Mantuq-Mafhum, Mutlaq Muqoyad, Asbab Al-Nuzul dll,&#8221; pungkas  Iman.<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Kampus, Syari&#8217;ahwalisongo.co.id) &#8211; &#8220;Aktifis lembaga penerbitan adalah mahasiswa yang harus tetap menjaga idealisme. Dari itu workhsop kajian keislaman seperti ini sangat penting dan dibutuhkan oleh para sktifis LPM Justisia untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[27],"tags":[],"class_list":["post-1809","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kunjungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1809","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1809"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1809\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1809"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1809"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1809"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}