{"id":1763,"date":"2012-04-12T16:07:00","date_gmt":"2012-04-12T09:07:00","guid":{"rendered":"http:\/\/fsei.walisongo.ac.id\/?p=88"},"modified":"2012-04-12T16:07:00","modified_gmt":"2012-04-12T09:07:00","slug":"hak-keperdataan-anak-diluar-nikah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/?p=1763","title":{"rendered":"Hak Keperdataan Anak Diluar Nikah"},"content":{"rendered":"<div class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-mtQA4EGPbW0\/T4ac5crqR2I\/AAAAAAAAASA\/ff8p0-P2p7E\/s1600\/large_571302610_dsc_0094.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"265\" src=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-mtQA4EGPbW0\/T4ac5crqR2I\/AAAAAAAAASA\/ff8p0-P2p7E\/s400\/large_571302610_dsc_0094.jpg\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<p><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\"><b style=\"font-weight: bold;\"><span lang=\"EN-GB\">(Semarang, Syari\u2019ahwalisongo.ac.id) &#8211; <\/span><\/b><span lang=\"EN-GB\">Persoalan status anak bukan hasil dari pernikahan yang sah secara agama dan negara di Indonesia, masih menyisakan perdebatan panjang. Perbedaan pendapat ini terjadi di semua level di masyarakat terutama di kalangan cendekiawan Islam.<\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\"><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/span><\/div>\n<p><\/p>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Fakultas Syari\u2019ah IAIN Walisongo Semarang sebagai Fakultas Hukum Islam&nbsp; tak ketinggalan turut mengkaji hak keperdataan anak diluar nikah tersebut. Dr. Imam Yahya, selaku Dekan Fakultas Syari\u2019ah, mengatakan bahwa diskusi mengenai status anak diluar nikah dianggap penting. <\/span><br \/><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Mengingat banyak pihak bertumpu pada sikap yang diambil oleh pakar-pakar hukum Islam karena ini merupakan urusan hubungan keperdataan yang erat kaitanya dengan hukum Islam. \u201cFakultas Syari\u2019ah sebagai fakultas yang konsentrasi dalam hukum Islam perlu untuk mengkaji lebih dalam lagi terkait dengan status anak diluar nikah. Karena masyarakat biasanya bertumpu pada pakar hukum Islam di IAIN Walisongo,\u201d jelas Dr. imam Yahya.&nbsp; <\/span><br \/><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Menindaklanjuti terkait dengan status anak diluar nikah kemudian Fakultas Syari\u2019ah mengamanatkan kepada Jurusan Muamah (Hukum Ekonomi Islam) untuk menggelar diskusi terbuka. Seminar yang bertajuk \u201cStatus Anak Luar Nikah dan Hak Keperdataannya Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46\/PUU-VIII\/2010\u2033. <\/span><br \/><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Diskusi berlangsung, di auditorium kampus 1 lantai 2 IAIN Walisongo Semarang, Selasa (10\/4). <\/span><span lang=\"FR\">Seminar ini dipenuhi peserta diskusi sekitar 500 peserta memadati auditorium lantai 2. <\/span><span lang=\"EN-GB\">Padahal target awal dari panitia hanya menargetkan peserta antara 150 sampai 250 pserta. <\/span><span lang=\"FR\">Dari itu hampir setangahnya peserta seminar rela berdiri di bagian belakang.<\/span><br \/><span lang=\"FR\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">\u201cPada awalnya panitia hanya menyediakan tempat untuk peserta sekitar 250 namun ternyata peserta membludak hingga sekitar 500 peserta. Terpaksa kemudian peserta yang tidak kebagian tempat duduk kemudian berdiri di bagian belakang ruangan diskusi,\u201d papar Moh. Arifin, M.Hum sebagai ketua panitia penyelenggara seminar tersebut. <\/span><br \/><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Namun kondisi demikian tak menyulutkan semangat peserta untuk mengikuti diskusi. Hadir ketiga narasumber dalam acara tersebut yaitu ketua MUI Jawa Tengah Drs. Ahmad Daroji, MA, &nbsp;Chotib Rasyid, Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Semarang, dan juga Setyawati dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).<\/span><br \/><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Dari ketiga narasumber tersebut nampaknya dalam menyikapi Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46\/UU-VIII\/2010 tidak seragam. Ada yang menyampaikan kelebihan dan ada juga yang memaparkan kelemahan.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Ketua PTA Semarang misalkan memaparkan akan bukti yang bisa dijadikan rujukan untuk mengetes apakah memang betul anak itu adalah anak sah dari bapaknya. Dimana bukti tersebut sekarang harus ditambah dengan tes DNA. Dimana pada waktu dulu cukup dengan menggunakan foto. \u201cStatus anak diluar nikah bisa dibuktikan dengan tes DNA\u201d jelas ketua PTA Semarang. <\/span><br \/><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Selain itu ia juga mengklasifikasikan siapa anak diluar nikah. Dimana yang menjadi ketakutan dari sebagian orang adalah pelegalan praktek perjinahan. Chotib Rasyid, MA kemudian kemudian menjelaskan tiga kategori anak. Pertama, anak yang memang lahir dari perkawinan yang sah secara agama dan negara.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Kedua, anak yang lahir dari perkawinan yang sah secara agama, namun tidak dicatatkan di catatan sipil atau di Kantor Urusan Agama (KUA). Kategori kedua ini yang kebanyakan orang dengan menyebut dengan nikah syiri\u2019. Lalu yang ketiga adalah anak yang merupakan hasil dari kumpul kebo, atau perzinahan.<\/span><br \/><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">\u201cYang dimaksud anak diluar nikah dalam putusan MK adalah anak yang hasil dari nikah kategori yang kedua. Dimana nikahnya sah secara agama naum tidak dicatatkan di catatan sipil dan KUA,\u201d demikian tambahan dari ketua PTA Semarang.<\/span><br \/><span lang=\"EN-GB\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">Sementara kekhawatiran mengenai anak diluar nikah adalah termasuk juga anak hasil kumpul kebo diungkapkan oleh ketua MUI. Dengan adanya putusan MK ini nantinya sarat dengan penyelewengan. <\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-GB\">\u201cPutusan MK yang menyatakan anak luar nikah memiliki hak sama seperti anak dari nikah yang sah, juga harus melihat efeknya, karena bisa disalahgunakan untuk legalitas perzinaan. Untuk aplikasinya dalam kehidupan masyarakat putusan MK ini harus dikaji ulang,\u201d ujar Drs. Ahmad Darodji, MA. <\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Semarang, Syari\u2019ahwalisongo.ac.id) &#8211; Persoalan status anak bukan hasil dari pernikahan yang sah secara agama dan negara di Indonesia, masih menyisakan perdebatan panjang. Perbedaan pendapat ini terjadi di semua level di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1763","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-dosen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1763"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1763\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fsh.walisongo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}