Workshop kajian keislaman LPM Justisia

0
845
(Kampus, Syari’ahwalisongo.co.id) – “Aktifis lembaga penerbitan adalah mahasiswa yang harus tetap menjaga idealisme. Dari itu workhsop kajian keislaman seperti ini sangat penting dan dibutuhkan oleh para sktifis LPM Justisia untuk mempunyai sensitifitas terhadap isu-isu kajian keislaman,” jelas Tedi Kholiludin dalam kesempatan acara workshop kajian keislaman LPM Justisia Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, Kamis, (7/2).
Aktifis lembaga penerbitan saat ini dituntut untuk lebih peka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial keagamaan. Karena itu dituntut untuk lebih bisa memahami bagaimana problemnya dimasyarakat. Selain itu sebagai aktifis lembaga penerbitan juga dibutuhkan orang yang yang mempunyai sens terhadap isu-isu damai atau feace jurnalism.
“Dalam situasi seperti ini maka aktifis lembaga penerbitan harus punya sens terhadap jurnalisme damai. Artinya lebih peka terhadap isu-isu damai atau feace jurnalism,” Tambah Tedi.

Dalam sesi selanjutnya, Iman Fadhilah selaku narasumber yang kedua memaparkan betapa pentingnya mendalami kajian keislaman secara konfrehensif. Karena seringkali terjadi salah pemahaman terhadap nash (ayat) yang mengakibatkan fatal jika diterapkan dalam kehidupan. Salah paham itu bisa diakibatkan oleh dangkalnya pengetahuan dan bisa juga terpengaruh oleh politik keagamaan.
Mengkaji Islam sebagai aktifis lembaga penerbitan dan juga sekaligus mahasiswa Fakultas Syari’ah harus sangan konfrehensif dalam mengkaji sebuah nash. Baik itu dari sisi sejarahnya, garamatikal nash itu sendiri dan juga dari sisi konsep pewahyuanya. Untuk dapat memahami maksud dari suatu nash atau teks tidak bisa hanya dipahami dari satu sisi saja.

“Dalam memahami suatu teks agama tidak bisa kita memahaminya dari satu sisi saja. Tapi harus sangat konfrehensif. Baik itu dari sisi kajian sejarahnya, secara gramatikal bahasanya, dan juga konsep pewahyuanya itu sendiri. Karena jika kita hanya memahami suatu teks dari satu sisi saja akan berakibat fatal,” papar Iman Fadhilah. Hal demikian kerap kali terjadi di masyarakat. Termasuk ketika ada yang memahami bahwa daging anjing itu halal. Ini salah satu contoh pemahaman keagamaan yang tidak konfrehensif. “Hanya membaca al-Qur’an tanpa dimaknai sisi-sisi ilmu al-Qur’an lainya. Seperti Mantuq-Mafhum, Mutlaq Muqoyad, Asbab Al-Nuzul dll,” pungkas Iman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here