Ramadhan, Bulan Refleksi untuk Mencapai Kebahagiaan Sejati

0
2519
Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag
(Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Daarun Najaah Semarang)
Ada sebuah sabda yang menarik dari nabi Isa as, yang diriwayatkan Ali bin Musa al-Ridla (salah seorang Imam Kaum Syiah); “Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan perkenan Allah. Juga aku sembuhkan orang buta dan orang yang berpenyakit lepra dengan perkenan Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan perkenan Allah; kemudian aku obati orang dungu, namun aku tidak mampu menyembuhkannya”.
Pada suatu hari  beliau pun ditanya : “Wahai ruh Allah, siapakah orang dungu itu? Beliau menjawab: yaitu orang yang kagum pada pendapatnya sendiri, yang memandang semua keunggulannya ada padanya dan tidak melihat cacat ada padanya ; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya”.   Nabi Isa as. menyebut orang dungu itu sebagai “al-ahmaq”. Kedunguan yang bukan sembarang kedunguan, tetapi kedunguan kuadrat atau jahil murakkab (kebodohan berlipat).
Imam Ghazali berkata, ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang tidak tahu  dan tahu bahwa ia tidak tahu ( man la yadri wa yadri annahu la yadri ). Inilah orang bodoh yang sederhana. Orang seperti ini mudah disembuhkan, terutama lewat pendidikan. Kedua, orang yang tahu, tetapi ia tidak tahu bahwa ia tahu  (man yadri wa la yadri annahu yadri). Orang seperti ini laiknya orang yang tertidur. Dia harus dibangunkan dari tidurnya supaya sadar akan kemampuannya sehingga dapat memberi manfaat kepada dirinya dan pada orang lain.
Ketiga, adalah orang yang tahu dan ia tahu bahwa ia tahu (man yadri wa yadri annahu yadri). Inilah golongan orang-orang arif (al-hukama). Mereka inilah orang yang perlu diikuti ajaran maupun cara hidupnya dan menjadi teladan umat manusia. Sementara yang keempat, adalah orang yang tidak tahu dan tidah tahu bahwa ia tidak tahu (man la yadri wa la yadri annahu la yadri). Inilah golongan yang benar-benar orang-orang dungu.
Menurut nabi Isa as tersebut di atas, seseorang sulit disembuhkan kebodohannya selama ia belum menyadari ketidaktahuannya. Orang ini menderita jahil yang disebut dengan jahil murakkab. Pangkal kebodohannya adalah ketidaktahuan pada dirinya sendiri, ditambah dengan sifat ujub yakni sifat merasa dirinya selalu benar, tidak pernah salah. Kebodohan semacam ini bukanlah cirri orang yang beriman, karena orang yang beriman adalah orang yang selalu berusaha untuk  menyingkap tabir ketidaktahuan dirinya. Karena iman yang benar menghasilkan sikap tahu diri yang benar. Dan tahu diri adalah pangkal kearifan.
Oleh karena itu, untuk menyongsong bulan Ramadhan tahun ini, kita tekankan pengenalan diri kita dengan cara muhasabah – dengan cara intropeksi, yakni seperti yang dikatakan dalam ungkapan   sufi : “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (siapa mengenal dirinya sendiri maka ia mengenal Tuhannya). Nabi Muhammad saw sendiri juga pernah bersabda: “Man shoma Ramadhana imanan wahtisaban  ghufira lahu ma taqaddama min danbihi” (barang siapa menjalankan puasa penuh dengan keimanan dan melaksanakan perhitungan diri – melaksanakan muhasabah, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu).
Ihtisaban – perhitungan terhadap diri sendiri adalah hal yang sangat dianjurkan dalam ibadah puasa. Inilah momentum yang sangat baik bagi kita untuk intropeksi terhadap hidup kita selama ini. Terhadap apa saja yang sudah kita lakukan, terhadap apa saja yang belum kita lakukan, kesalahan-kesalahan apa yang telah kita perbuat, sehingga intropeksi  ini juga menyangkut pertaubatan atas kesalahan atau dosa-dosa yang sudah kita perbuat. Sehingga ihtisaban – perhitungan diri memang tidak lepas dari pertaubatan.
Manusia melakukan dosa karena ia tidak tahan untuk menderita sementara. Padahal ada kebahagiaan besar di kemudian hari jika ia sanggup menunda kepuasan sementara. Dosa memang menjadi bagian kehidupan manusia karena manusia memang lemah, seperti dikatakan hikmah dalam bahasa latin, Erare Humanum est (manusia adalah pembuat kesalahan). Karena itu definisi dosa adalah sesuatu yang dalam jangka pendek membawa kesenangan, tetapi dalam jangka panjang membawa kesengsaraan. Dosa disebut juga munkar yang artinya sesuatu yang diingkari atau ditolak oleh hati nurani. Kita tahu hati nurani adalah locus kesadaran manusia, kesuciannya, fitrahnya. Karena itu ia disimbolkan dengan cahaya. Hati yang bersih menjadi sumber cahaya kehidupan kita yang membawa kebaikan dan kebenaran. Namun karena kelemahan manusia itu, manusia dapat terjatuh kedalam kegelapan – dulmani – dosa. Di sini hati nurani melakukan vis-à-vis dengan hati yang gelap. Hati nurani menjadi sumber kebajikan manusia, sedangkan hati yang gelap menjadi sumber dosa. Nabi Muhammad saw bersabda : “Kebajikan adalah budi pekerti luhur, dan dosa adalah sesuatu yang terbetik dalam dadamu dan kamu tidak suka orang lain mengetahuinya”.
Oleh karena itu, jika tahu diri adalah pangkal kearifan, ini berarti dari waktu ke waktu manusia memang selalu memerlukan penyucian dirinya, menyucikan hatinya, supaya hati itu menjadi nurani – bersifat cahaya kembali. Di saat bulan Ramadhan inilah di samping bertujuan mencapai ketakwaan, puasa Ramadhan juga dapat mempertajam kepekaan hati nurani yang mengajak ke kebenaran dan kebaikan.
Marilah kita benar-benar melakukan penghitungan diri – melakukan ihtisaban, sehingga kita dapat mendapatkan rahmah – maghfirah dan berkah yang ada dalam bulan Ramadhan tahun ini. Sehingga ritualitas kita selama bulan Ramadhan ini tidak hanya sekedar  “pemeranan” dalam sebuah permainan teater  – yang sudah tidak memainkan peran baik ketika tidak manggung lagi. Namun nilai-nilai hasil penghitungan diri – ihtisaban – selama Ramadhan ini dapat mencambuk untuk berbuat lebih baik, lebih bermanfaat kepada yang lain, sehingga jauh dari perilaku zalim baik pada diri sendiri, baik pada sesama, maupun dhalim pada lingkungan social kita.
Dengan demikian kiranya  hasanah fiddunya  wal akhirah akan mudah diraih, yang mana dalam konteks kenegaraan konsep baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur akan mudah tergapai. Mari kita songsong bulan Ramadhan 1434 H tahun ini dengan muhasabah. Selamat menyambut bulan Ramadhan 1434 H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here